PROFIL DESA PULOSARI Kecamatan Bareng β€’ Kabupaten Jombang β€’ Jawa Timur
← Command Center
PEMERINTAH DESA PULOSARI

Sejarah Desa

πŸ› Pemerintah Desa Pulosari πŸ•’ Diperbarui: 16-09-2026 15:18 WIB
Sejarah Desa
Sejarah Desa Pulosari
Dari Jejak Majapahit, Syiar Islam, Tiga Kampung, hingga Desa Pulosari Masa Kini

Di lereng kawasan Anjasmoro, pada bentang alam yang kemudian dikenal masyarakat sebagai Panyongone Anjasmoro, tumbuh sebuah desa yang menyimpan lapisan sejarah panjang. Desa itu adalah Pulosari, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang.

Sejarah Pulosari tidak hanya dapat dibaca melalui dokumen pemerintahan. Ia juga hidup dalam cerita para sesepuh, nama kampung, petilasan, peninggalan candi, jalan-jalan lama, kawasan pertanian, serta kisah yang diwariskan dari generasi ke generasi. Situs resmi Pemerintah Desa Pulosari sendiri menempatkan sejarah lokal sebagai pengalaman kolektif yang mencakup unsur sosial, budaya, agama, ekonomi, dan kehidupan masyarakat.

Karena itulah sejarah Desa Pulosari perlu dibaca dalam dua lapisan. Pertama adalah jejak sejarah yang dapat ditelusuri melalui peninggalan dan dokumen, terutama keberadaan Candi Rimbi atau Candi Arimbi. Kedua adalah sejarah tutur masyarakat, yaitu kisah mengenai Prabu Boko, Joko Lodang, Kyai Sari, Mayang Sari, Kyai Nashir, Kampung Segitik, serta asal-usul tiga wilayah yang sekarang menjadi Dusun Pulosari, Pulonasir, dan Sumbermulyo.

Pulosari Sebelum Menjadi Permukiman

Dalam cerita yang diwariskan masyarakat dan dicatat oleh Pemerintah Desa Pulosari, wilayah yang sekarang menjadi Desa Pulosari pada mulanya digambarkan sebagai kawasan hutan dengan jumlah penghuni yang masih sedikit.

Cerita lokal menghubungkan kawasan ini dengan masa Kerajaan Majapahit. Dalam versi tutur tersebut, pada masa pemerintahan Raja Brawijaya terdapat kegiatan keagamaan Hindu di kawasan ini. Tokoh yang disebut dalam kisah masyarakat adalah Prabu Boko dan keponakannya, Joko Lodang, yang dikisahkan mendirikan tempat peribadatan yang kemudian dikenal sebagai Candi Arimbi.

Bagian mengenai Prabu Boko, Joko Lodang, dan hubungan langsung dengan keluarga Brawijaya sebaiknya dipahami sebagai legenda lokal yang diwariskan masyarakat, bukan sebagai kesimpulan arkeologis yang sudah terbukti.

Namun keberadaan candinya sendiri merupakan fakta sejarah.

Candi Rimbi atau Candi Arimbi merupakan bangunan bercorak Hindu yang berada di wilayah Pulosari. Sumber Kementerian Pendidikan mencatat candi ini diperkirakan berasal dari sekitar abad XIV Masehi. Bangunan tersebut memiliki ruang pusat dan relief pada bagian kaki candi, serta pernah diduga berkaitan dengan penggambaran Parwati atau Tribhuwana.

Pemerintah Kabupaten Jombang juga mencatat Candi Rimbi sebagai peninggalan masa klasik yang berada di Dusun Pulosari, Desa Pulosari, Kecamatan Bareng.

Dengan demikian, jauh sebelum Pulosari berkembang sebagai desa seperti sekarang, wilayah ini sudah mempunyai hubungan dengan perjalanan kebudayaan Hindu-Jawa pada masa klasik.

Candi Arimbi, Penjaga Ingatan Masa Lampau

Bagi masyarakat Pulosari, Candi Arimbi bukan sekadar susunan batu tua. Candi itu menjadi tanda bahwa wilayah Pulosari telah menjadi bagian dari perjalanan sejarah yang jauh lebih panjang daripada terbentuknya administrasi desa modern.

Catatan mengenai candi juga muncul pada masa kolonial. Sumber tentang Candi Arimbi menyebut reruntuhannya pernah dicatat dalam perjalanan Alfred Russel Wallace pada abad ke-19 ketika ia menuju kawasan Wonosalam untuk mengumpulkan spesimen tumbuhan. Pada tahun 1907, J. Knebel juga melakukan penelitian terhadap Candi Rimbi, dan pemugaran dilakukan kembali pada awal 1990-an.

Jejak ini mempertemukan tiga zaman dalam satu tempat: masa klasik Jawa, masa kolonial, dan Pulosari masa sekarang.

Dalam ingatan masyarakat, nama Arimbi kemudian berkembang bukan hanya menjadi nama bangunan, tetapi menjadi bagian dari identitas lokal yang terus diceritakan.

Datangnya Kyai Sari dan Mayang Sari

Lapisan berikutnya dalam sejarah tutur Pulosari berkaitan dengan berkembangnya Islam di kawasan tersebut.

Situs resmi Pemerintah Desa Pulosari mencatat cerita bahwa datang seorang tokoh ulama bernama Kyai Sari bersama istrinya, Mayang Sari. Dalam cerita masyarakat, keduanya membuka kawasan hutan untuk dijadikan permukiman sekaligus membawa ajaran Islam. Permukiman itu kemudian dikenal sebagai Kampung Pulosari.

Tidak ditemukan tahun pasti kedatangan Kyai Sari dan Mayang Sari dalam sumber desa yang tersedia. Karena itu, akan lebih tepat bila cerita ini ditulis sebagai riwayat turun-temurun masyarakat, bukan diberi angka tahun yang belum mempunyai bukti.

Kisah tersebut sangat penting dalam sejarah religi Pulosari. Ia menggambarkan sebuah perubahan zaman: kawasan yang sebelumnya menyimpan jejak kebudayaan Hindu berkembang menjadi permukiman dengan kehidupan masyarakat Islam.

Namun pergantian zaman tersebut tidak menghapus peninggalan sebelumnya. Candi tetap berada di Pulosari, sementara kehidupan Islam tumbuh dan berkembang di sekitarnya.

Di sinilah salah satu kekayaan sejarah Pulosari terlihat: warisan lama tidak harus dimusnahkan oleh zaman baru. Candi menjadi peninggalan sejarah, sementara masyarakat kemudian membangun kehidupan religius sesuai keyakinan yang berkembang pada zamannya.

Sebuah laporan lokal bahkan menggambarkan perjalanan Pulosari sebagai proses akulturasi budaya dan agama yang kemudian membentuk kehidupan masyarakat.

Dari Kyai Sari Menuju Nama Pulosari

Nama Pulosari sendiri mempunyai beberapa cerita.

Salah satu cerita menghubungkannya dengan keberadaan pohon Polosari/Pulosari yang dahulu tumbuh di sekitar desa. Situs resmi desa menyebut pohon tersebut sekarang sudah semakin jarang, meskipun pernah ditanam kembali di depan Kantor Desa Pulosari sebagai pengingat.

Namun Pemerintah Desa juga menegaskan bahwa cerita pohon Polosari itu bukan satu-satunya dasar untuk menetapkan asal-usul nama desa. Artinya, cerita tersebut merupakan salah satu versi yang hidup di masyarakat dan masih memerlukan penggalian sejarah lebih dalam.

Sementara itu, keberadaan tokoh Kyai Sari dan Mayang Sari membuat unsur kata β€œSari” juga menjadi bagian menarik dalam tradisi tutur mengenai nama Pulosari.

Maka sampai hari ini nama Pulosari sebaiknya ditempatkan sebagai warisan sejarah yang mempunyai beberapa lapisan penafsiran, bukan dipaksakan hanya pada satu cerita.

Lahirnya Kampung Pulonasir

Perjalanan sejarah Pulosari kemudian berkembang ke wilayah sebelah selatan.

Menurut catatan sejarah desa, datang seorang ulama pendatang bernama Kyai Nashir. Tokoh ini kemudian mendirikan sebuah kampung di sebelah selatan Kampung Pulosari.

Dari nama Kyai Nashir inilah berkembang nama Kampung Pulonasir, yang kemudian menjadi Dusun Pulonasir seperti dikenal sekarang.

Salah satu laporan sejarah lokal menyebut pembentukan Kampung Pulonasir berlangsung sekitar tahun 1900, berdasarkan penuturan perangkat desa. Karena angka tersebut berasal dari sejarah lokal, tahun 1900 sebaiknya tetap dicatat sebagai keterangan tutur yang masih dapat diperdalam melalui arsip lama desa.

Kehadiran Kyai Nashir memperkuat warna religi dalam sejarah masyarakat Pulosari.

Jika Kyai Sari dikenang dalam riwayat pembukaan Kampung Pulosari, maka Kyai Nashir menempati posisi penting dalam cerita perkembangan wilayah Pulonasir.

Nama seorang ulama akhirnya melekat menjadi nama tempat dan diwariskan hingga generasi sekarang.

Kampung Segitik dan Lahirnya Sumbermulyo

Di bagian lain Pulosari berkembang cerita yang berbeda.

Di sebelah utara Kampung Pulosari terdapat wilayah yang dahulu dipisahkan oleh sungai besar dan masih berupa kawasan hutan. Dalam cerita masyarakat, tempat tersebut pernah menjadi arena adu pukul atau adu kesaktian.

Istilah yang diwariskan untuk kegiatan tersebut adalah Segitik.

Karena itulah wilayah tersebut kemudian dikenal sebagai Kampung Segitik. Dalam perjalanan waktu, nama Kampung Segitik kemudian berubah menjadi Kampung Sumbermulyo, dan sekarang menjadi Dusun Sumbermulyo.

Cerita Segitik memperlihatkan warna lain dari kehidupan masyarakat tempo dulu. Kehidupan masyarakat tidak hanya berkaitan dengan pertanian dan agama, tetapi juga mempunyai tradisi keberanian, kekuatan fisik, dan cerita mengenai kesaktian yang lazim hadir dalam folklor Jawa.

Dengan demikian, tiga dusun di Pulosari mempunyai jejak cerita yang berbeda:

Pulosari berkaitan dengan Kyai Sari dan Mayang Sari, Pulonasir dengan Kyai Nashir, sedangkan Sumbermulyo mempunyai lapisan cerita lama mengenai Kampung Segitik.

Ketiganya kemudian tumbuh menjadi satu Desa Pulosari.

Masa Pemerintahan Desa Tempo Dulu

Sejarah Pulosari mulai memperoleh bentuk kronologis yang lebih jelas ketika memasuki abad ke-20.

RPJMDes Pulosari mencatat bahwa sekitar 1910–1920, pemerintahan desa dipimpin oleh Alm. Abdul Kecik. Pada tahap ini desa masih berada dalam proses penataan awal sehingga pembangunan belum banyak tercatat.

Periode 1920–1930 dipimpin oleh Alm. Sukar. Dokumen desa menggambarkan masa tersebut masih berada dalam suasana pemerintahan kolonial Belanda dan perkembangan perkampungan masih terbatas.

Memasuki periode 1930–1964, Pulosari dipimpin oleh Alm. Prawiro Diharjo. Pada masa ini mulai dibangun jaringan jalan yang menghubungkan Dusun Pulosari dengan Pulonasir, dilanjutkan menuju Nglebak, serta jalur menuju Pugur dan Sumbersari.

Jalan-jalan tersebut mempunyai arti besar dalam sejarah rakyat desa.

Bagi generasi sekarang jalan mungkin hanya dipandang sebagai infrastruktur. Tetapi bagi masyarakat tempo dulu, terbukanya jalan berarti terbukanya hubungan antara kampung, akses menuju sawah dan kebun, perdagangan hasil bumi, hubungan keluarga, hingga perjalanan menuju desa tetangga.

Pulosari Setelah Kemerdekaan

Pada periode 1964–1999, kepemimpinan desa berada di tangan Soepangkat. Dokumen RPJMDes mencatat pembangunan balai desa, rumah dinas kepala desa, jalan tembus Pulonasir menuju Pucangrejo, serta pembangunan saluran irigasi pertanian.

Masa ini menjadi salah satu periode panjang pembangunan Desa Pulosari.

Balai desa bukan semata bangunan kantor. Ia menjadi tempat masyarakat datang mengurus administrasi, bermusyawarah, menyelesaikan persoalan, serta mengambil keputusan bersama.

Irigasi juga menjadi bagian penting dari kehidupan rakyat karena sebagian masyarakat menggantungkan hidup pada pertanian.

Setelah itu, Agus Sudarmaji memimpin pada periode 1999–2002 dan tercatat membuka jalan tembus Pulosari menuju Nglebak serta jalan lingkungan di Dusun Pulosari. Kemudian Suwandi pada 2002–2004 melanjutkan pembangunan melalui pengecoran jalan Pulonasir–Pugur dan jalan di Sumbermulyo.

Pada periode Pj. Saliman (2004–2007) dilakukan sejumlah pengecoran jalan, pembangunan jalan makam Pulonasir, serta kegiatan simpan pinjam masyarakat. Setelah itu Pujiadi (2007–2013) melanjutkan pembangunan jalan, jembatan deker, balai dan kantor desa, jalan penghubung antarwilayah, program PPIP, serta pemugaran rumah.

Periode Rokim (2013–2019) ditandai pembangunan jalan rabat beton dan drainase di tiga dusun, pembangunan Gedung BUMDes, aula, serta berbagai pembangunan lainnya. RPJMDes kemudian mencatat Nefi Ufus Solikah/Sholikah memimpin mulai tahun 2019.

Sejarah Rakyat: Dari Hutan, Ladang, hingga Desa

Namun sejarah Pulosari bukan hanya sejarah para kepala desa.

Sejarah sesungguhnya juga tersimpan pada rakyat biasa.

Ia berada pada tangan para petani yang membuka dan mengolah sawah. Pada warga yang membuat jalan sebelum alat berat masuk desa. Pada keluarga yang berjalan dari satu kampung ke kampung lain. Pada tokoh agama yang mengajarkan keyakinan. Pada perempuan yang menjaga keluarga dan kehidupan sosial. Pada pemuda yang menjaga kampung. Pada sesepuh yang menyimpan cerita sebelum semuanya ditulis dalam dokumen.

Kehidupan masyarakat Pulosari sejak dahulu sangat erat dengan alam. Tanah, hutan, sungai, kebun, ladang, dan sawah merupakan ruang kehidupan sekaligus sumber penghidupan.

Sumber tahun 2019 tentang Pulosari bahkan menggambarkan desa sebagai kawasan dataran tinggi dengan pertanian sebagai unsur penting kehidupan masyarakat.

Inilah sejarah yang sering kali tidak masuk buku resmi: sejarah orang-orang yang membangun desa sedikit demi sedikit.

Religi dan Kerukunan dalam Perjalanan Pulosari

Salah satu benang merah penting sejarah Pulosari adalah perjalanan religius masyarakatnya.

Pulosari mewarisi situs Hindu dari masa klasik. Kemudian dalam sejarah tutur masyarakat hadir Kyai Sari, Mayang Sari, dan Kyai Nashir yang dikaitkan dengan perkembangan Islam dan pembukaan permukiman.

Dua lapisan sejarah tersebut tidak harus dipertentangkan.

Candi Arimbi tetap dijaga sebagai warisan sejarah, sementara kehidupan masyarakat berkembang mengikuti keyakinan generasi berikutnya. Hal ini memperlihatkan bahwa wilayah Pulosari telah mengalami perjalanan kebudayaan yang panjang.

Yang diwariskan kepada generasi sekarang bukan hanya agama dalam pengertian ritual, tetapi juga nilai menghormati leluhur, menjaga kerukunan, gotong royong, musyawarah, dan hidup berdampingan.

Goa Ngesong dan Cerita Rakyat

Pulosari juga mempunyai cerita rakyat yang hidup di sekitar Goa Ngesong.

Sumber Desa Pulosari mencatat goa ini berada di kawasan antara Dusun Pulosari dan Sumbermulyo, di aliran Sungai Sumber Bengawan atau Sumber Watumayung di bawah Gunung Anjasmoro.

Nama Ngesong dikaitkan dengan bahasa Jawa yang berarti tembus karena goa tersebut mempunyai hubungan antara sisi bukit. Dalam cerita masyarakat juga terdapat kisah tentang batu besar yang menutup salah satu bagian goa serta cerita mistis mengenai hewan dan orang sakti.

Bagian ini sebaiknya tetap disebut cerita rakyat, bukan fakta geologi atau sejarah yang sudah diverifikasi.

Namun justru cerita semacam itulah yang memperkaya sejarah rakyat Pulosari. Ia menunjukkan bagaimana masyarakat tempo dulu memberi makna kepada alam di sekitarnya.

Pulosari dan Pohon Polosari

Ada pula cerita mengenai pohon Polosari.

Pada masa lalu pohon tersebut disebut banyak tumbuh di sekitar desa. Sekarang keberadaannya semakin jarang, sehingga penanaman pohon Polosari di sekitar Kantor Desa menjadi bentuk pengingat terhadap cerita lama.

Meski demikian, Pemerintah Desa sendiri tidak menetapkan cerita pohon tersebut sebagai satu-satunya asal-usul nama Pulosari.

Sikap seperti ini justru penting dalam penulisan sejarah: cerita rakyat tetap disimpan, tetapi tidak dipaksakan menjadi fakta sebelum bukti ditemukan.

Dari Desa Tradisional Menuju Desa Digital

Perjalanan panjang itu membawa Pulosari memasuki zaman yang sangat berbeda.

Jika generasi terdahulu membuka hutan dan jalan, generasi hari ini membuka jalan informasi.

Jika dahulu data berada dalam buku dan ingatan perangkat, sekarang data desa mulai dipetakan secara digital.

Jika dahulu informasi harus didapatkan dengan datang ke balai desa, sekarang berbagai pelayanan mulai terhubung melalui Command Center Desa Pulosari.

Namun kemajuan teknologi tidak menghapus sejarah.

Justru teknologi memberikan kesempatan kepada Pulosari untuk menyimpan cerita yang selama puluhan bahkan ratusan tahun hanya diwariskan secara lisan.

Nama Kyai Sari, Mayang Sari, Kyai Nashir, Kampung Segitik, Pulonasir, Sumbermulyo, Candi Arimbi, Goa Ngesong, jalan-jalan lama, serta cerita masyarakat dapat didokumentasikan agar tidak hilang bersama berpulangnya generasi tua.

Warisan yang Harus Dijaga

Sejarah Desa Pulosari masih belum selesai digali.

Masih mungkin terdapat cerita tentang tokoh pembuka wilayah, makam tua, lokasi permukiman lama, sumber air, nama sawah, nama jalan, batas kampung, tradisi, foto-foto keluarga, arsip letter C, dokumen pemerintahan lama, maupun kisah masa penjajahan yang belum tertulis.

Karena itu, naskah sejarah ini sebaiknya dipandang sebagai pondasi awal dokumentasi, bukan akhir penelitian.

Generasi sekarang mempunyai tanggung jawab untuk menemui para sesepuh yang masih ada, merekam cerita mereka, mengumpulkan foto lama, menelusuri makam tokoh, serta membandingkan cerita lisan dengan dokumen pemerintah.

Dengan cara itulah sejarah rakyat Pulosari akan semakin lengkap.

Pulosari, Desa yang Berdiri di Atas Banyak Zaman

Pulosari hari ini merupakan hasil perjalanan banyak generasi.

Dari batu-batu Candi Arimbi yang menyimpan jejak masa klasik, cerita Prabu Boko dan Joko Lodang dalam legenda rakyat, perjalanan Kyai Sari dan Mayang Sari dalam membuka Kampung Pulosari, Kyai Nashir dan lahirnya Pulonasir, cerita Segitik yang berkembang menjadi Sumbermulyo, sampai para kepala desa dan masyarakat yang membangun jalan, irigasi, balai desa, sekolah, tempat ibadah, serta fasilitas kehidupan.

Semuanya merupakan lapisan yang membentuk Pulosari.

Sejarah Pulosari bukan hanya tentang siapa yang pernah memimpin, tetapi tentang siapa saja yang pernah menanam, membangun, berdoa, bekerja, menjaga kampung, dan mewariskan kehidupan kepada generasi berikutnya.

Candi mengingatkan Pulosari pada masa lampau.

Kyai dan ulama mengingatkan pada perjalanan spiritual masyarakat.

Sawah dan ladang mengingatkan pada kerja keras rakyat.

Tiga dusun mengingatkan bahwa perbedaan asal cerita tetap dapat menyatu dalam satu desa.

Dan pembangunan masa kini mengingatkan bahwa sejarah bukan sekadar untuk dikenang, tetapi harus menjadi dasar untuk menentukan arah masa depan.

Pulosari adalah desa yang tumbuh dari sejarah, dipersatukan oleh kehidupan masyarakat, dikuatkan oleh nilai religi dan gotong royong, serta terus bergerak mengikuti zaman tanpa kehilangan akar jati dirinya.
Sumber informasi: Pemerintah Desa Pulosari.