PROFIL DESA PULOSARI Kecamatan Bareng • Kabupaten Jombang • Jawa Timur
← Command Center
PEMERINTAH DESA PULOSARI

Sejarah Dusun Sumbermulyo

🏛 Pemerintah Desa Pulosari 🕒 Diperbarui: 16-09-2026 15:43 WIB
Sejarah Dusun Sumbermulyo
Sejarah Dusun Sumbermulyo / Segitik
Dari Kampung Segitik, Kehidupan Rakyat, hingga Sumbermulyo Masa Kini

Dusun Sumbermulyo merupakan salah satu dari tiga dusun di Desa Pulosari, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang. Di balik nama Sumbermulyo yang digunakan sekarang, tersimpan nama lama yang masih hidup dalam ingatan masyarakat, yaitu Kampung Segitik. Nama inilah yang menjadi pintu masuk untuk memahami perjalanan masyarakat Sumbermulyo dari masa lampau hingga menjadi bagian penting Desa Pulosari sekarang.

Sejarah Sumbermulyo sebagian besar merupakan sejarah tutur masyarakat. Tidak semua peristiwa mempunyai catatan tahun, nama tokoh, atau dokumen tertulis yang lengkap. Karena itu, kisah mengenai Segitik perlu dipelihara sebagai warisan rakyat sekaligus terus dilengkapi melalui penelusuran kepada para sesepuh, arsip desa, dokumen pertanahan lama, makam, foto keluarga, dan berbagai bukti sejarah lainnya.

Wilayah di Sebelah Utara Kampung Pulosari

Riwayat asal-usul yang diterbitkan Pemerintah Desa Pulosari menyebut bahwa wilayah yang kemudian menjadi Sumbermulyo berada di sebelah utara Kampung Pulosari. Pada masa lampau kawasan tersebut dipisahkan oleh sebuah sungai besar dan masih digambarkan sebagai kawasan hutan.

Gambaran tersebut membawa kita pada suasana yang jauh berbeda dari Sumbermulyo hari ini. Belum terdapat jaringan jalan seperti sekarang, rumah penduduk masih sedikit, dan hubungan antarwilayah sangat bergantung pada jalur sederhana yang dapat dilalui masyarakat.

Hutan, aliran air, lahan terbuka, dan tanah pertanian menjadi lingkungan utama kehidupan warga. Dari ruang seperti inilah perlahan-lahan tumbuh sebuah permukiman.

Masyarakat membuka lahan secara bertahap. Tanah yang dapat ditanami dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Rumah-rumah mulai didirikan, jalur penghubung terbentuk, dan kehidupan bersama mulai berkembang.

Asal-Usul Nama Segitik

Salah satu cerita paling khas dari sejarah dusun ini adalah asal nama Segitik.

Dalam catatan Pemerintah Desa Pulosari, kawasan di sebelah utara Kampung Pulosari tersebut pada masa lalu diceritakan pernah digunakan sebagai tempat adu pukul atau adu kesaktian. Dari tradisi atau peristiwa itulah masyarakat mengenal nama Segitik, yang dikaitkan dengan pengertian adu pukul. Wilayah itu kemudian dikenal sebagai Kampung Segitik.

Bagian ini harus dipahami sebagai cerita sejarah lokal yang diwariskan masyarakat, bukan sebagai peristiwa yang seluruh detailnya telah dibuktikan melalui catatan sejarah tertulis.

Namun justru cerita semacam inilah yang memberikan warna pada sejarah rakyat.

Nama Segitik memperlihatkan bagaimana masyarakat dahulu memberi nama suatu tempat berdasarkan peristiwa, kebiasaan, atau ciri yang dianggap penting pada zamannya.

Nama tempat kemudian menjadi semacam arsip hidup.

Selama nama itu masih disebut dan ceritanya masih diwariskan, sebagian ingatan masa lalu tetap dapat bertahan.

Dari Segitik Menjadi Sumbermulyo

Seiring perjalanan waktu, Kampung Segitik mengalami perkembangan. Permukiman semakin tumbuh, masyarakat semakin banyak, kehidupan sosial semakin tertata, dan kawasan tersebut akhirnya dikenal dengan nama Sumbermulyo.

Sumber resmi Pemerintah Desa Pulosari menyebut secara jelas bahwa Kampung Segitik kemudian beralih nama menjadi Kampung Sumbermulyo, yang sekarang menjadi salah satu dusun di Desa Pulosari.

Perubahan nama tersebut menjadi titik penting dalam perjalanan sejarah masyarakat.

Nama Sumbermulyo membawa nuansa yang berbeda. Dalam pemaknaan bahasa Jawa, “sumber” sering berkaitan dengan sumber kehidupan, sedangkan “mulyo” mempunyai makna kemuliaan atau kehidupan yang baik. Walaupun pemaknaan tersebut masuk akal secara kebahasaan, belum ditemukan dokumen desa yang menerangkan secara pasti siapa yang menetapkan nama Sumbermulyo dan alasan resmi perubahan nama tersebut.

Karena itu, bagian tersebut masih menjadi ruang penelitian sejarah yang menarik.

Yang dapat dipastikan adalah bahwa nama Segitik tidak benar-benar hilang. Ia tetap menjadi bagian dari identitas lama masyarakat Sumbermulyo.

Dengan demikian, Segitik adalah akar sejarah, sedangkan Sumbermulyo adalah nama yang membawa perjalanan masyarakat itu ke masa berikutnya.

Membuka Kampung dengan Kerja Bersama

Permukiman pada masa lalu tidak dibangun dengan alat berat atau fasilitas sebagaimana sekarang.

Masyarakat membuka lahan dengan tenaga sendiri. Rumah dibangun menggunakan bahan yang tersedia di sekitar. Jalan kampung terbentuk dari jalur yang digunakan berulang kali untuk berjalan, membawa hasil pertanian, mengunjungi keluarga, dan menuju wilayah lainnya.

Kehidupan seperti itu menjadikan hubungan antarwarga sangat penting.

Membangun rumah sering membutuhkan bantuan tetangga.

Mengolah lahan membutuhkan kerja keluarga.

Memperbaiki jalan membutuhkan tenaga masyarakat.

Ketika seorang warga mempunyai hajatan, mengalami musibah, atau membutuhkan pertolongan, warga lain hadir membantu.

Dari kehidupan itulah tumbuh budaya gotong royong yang menjadi salah satu kekuatan masyarakat Sumbermulyo hingga sekarang.

Pertanian dan Sumber Kehidupan

Dalam perkembangan masyarakat perdesaan Pulosari, pertanian mempunyai peranan yang sangat besar.

Sumbermulyo dengan lingkungan perdesaan dan lahan produktif tumbuh bersama aktivitas sawah, kebun, dan berbagai kegiatan pertanian.

Bagi masyarakat tempo dulu, pertanian bukan hanya pekerjaan.

Pertanian adalah sistem kehidupan.

Waktu masyarakat ditentukan oleh musim.

Ketika hujan mulai turun, lahan dipersiapkan.

Ketika tanaman tumbuh, keluarga menjaga dan merawatnya.

Ketika panen datang, hasilnya digunakan untuk kebutuhan hidup dan sebagian menjadi sumber pendapatan.

Pengetahuan mengenai tanah, cuaca, air, tanaman, dan musim diwariskan dari orang tua kepada anak melalui pengalaman langsung.

Tidak semuanya tercatat dalam buku.

Namun pengetahuan itulah yang membuat masyarakat mampu bertahan dan membangun kehidupan selama beberapa generasi.

Sungai, Air, dan Kehidupan Kampung

Catatan asal-usul desa menyebut sungai sebagai batas penting antara Kampung Pulosari dan kawasan yang kemudian dikenal sebagai Segitik.

Air mempunyai arti yang sangat besar dalam kehidupan masyarakat perdesaan.

Sumber air digunakan untuk kebutuhan rumah tangga, pertanian, ternak, dan berbagai keperluan lainnya.

Pada masa ketika jaringan air bersih belum berkembang, masyarakat sangat memahami pentingnya menjaga sumber dan aliran air.

Hubungan masyarakat dengan air inilah yang menarik untuk terus digali ketika menelusuri perubahan nama dari Segitik menjadi Sumbermulyo.

Mungkin masih terdapat cerita mengenai sumber mata air, nama sungai, pancuran, atau tempat-tempat lama yang tersimpan dalam ingatan para sesepuh.

Informasi semacam itu sangat berharga untuk dokumentasi sejarah dusun.

Kehidupan Religius Masyarakat Sumbermulyo

Seiring perkembangan masyarakat, kehidupan agama menjadi salah satu bagian yang kuat dalam identitas Sumbermulyo.

Masjid dan musala bukan hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga ruang pendidikan, pengajian, silaturahmi, serta berbagai kegiatan sosial.

Tradisi keagamaan tersebut masih terlihat kuat hingga masa sekarang. Pada Agustus 2026, misalnya, masyarakat Sumbermulyo menyelenggarakan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Asy-Syuhada yang melibatkan kiai, tokoh agama, pemerintah desa, pengurus organisasi keagamaan, serta masyarakat. Kegiatan itu menekankan pentingnya keimanan, silaturahmi, pendidikan generasi muda, dan kemakmuran masjid.

Kegiatan shalawat bersama juga tercatat pernah dilaksanakan masyarakat Sumbermulyo pada tahun 2024.

Kenyataan tersebut menunjukkan bahwa nilai religi bukan hanya cerita masa lalu, tetapi tetap menjadi bagian nyata kehidupan masyarakat Sumbermulyo hari ini.

Dari Kampung Kecil Menjadi Dusun

Seiring bertambahnya penduduk, kehidupan masyarakat menjadi semakin kompleks.

Rumah bertambah.

Jalan lingkungan berkembang.

Tempat ibadah dibangun dan diperbaiki.

Anak-anak memperoleh akses pendidikan yang lebih baik.

Hubungan dengan pusat pemerintahan desa semakin mudah.

Perubahan ini berlangsung sedikit demi sedikit dan merupakan hasil dari kerja banyak generasi.

Dalam sistem pemerintahan Desa Pulosari saat ini, Sumbermulyo tercatat sebagai salah satu dari tiga dusun bersama Pulosari dan Pulonasir. Data wilayah resmi desa juga menampilkan Dusun Sumbermulyo sebagai satu wilayah administratif tersendiri.

Dengan demikian, Kampung Segitik yang dahulu disebut dalam cerita rakyat telah berkembang menjadi sebuah dusun yang mempunyai struktur wilayah dan kehidupan masyarakat yang semakin tertata.

Gotong Royong sebagai Warisan

Salah satu warisan penting dari kehidupan tempo dulu adalah kebiasaan menyelesaikan pekerjaan secara bersama.

Pada masyarakat perdesaan, seseorang tidak mungkin memenuhi seluruh kebutuhan seorang diri.

Ada saatnya satu keluarga membantu keluarga lain.

Ada saatnya seluruh warga bekerja untuk kepentingan kampung.

Gotong royong dapat hadir dalam pembangunan rumah, perbaikan jalan, kegiatan kebersihan, kegiatan keagamaan, pemakaman, hajatan, maupun pertolongan kepada warga yang mengalami kesulitan.

Semangat seperti ini menjadi modal sosial yang sangat besar.

Infrastruktur dapat dibangun dengan anggaran.

Teknologi dapat dibeli.

Tetapi rasa saling percaya dan kebersamaan hanya dapat tumbuh dari kehidupan bersama dalam waktu yang panjang.

Itulah salah satu kekayaan yang perlu terus dijaga masyarakat Sumbermulyo.

Perempuan dalam Perjalanan Kampung

Sejarah rakyat sering terlalu banyak menceritakan tokoh laki-laki dan melupakan peranan perempuan.

Padahal kehidupan Sumbermulyo juga dibangun oleh perempuan.

Mereka mengurus keluarga, membantu pertanian, mengelola hasil panen, menjaga anak, mendukung kegiatan keagamaan, dan menjadi penjaga hubungan sosial dalam masyarakat.

Pada masa sekarang peran tersebut berkembang melalui PKK, Posyandu, kelompok perempuan, kegiatan sosial, usaha rumah tangga, serta berbagai kegiatan pemberdayaan.

Artinya, perjalanan masyarakat Sumbermulyo dari masa Segitik hingga sekarang juga merupakan perjalanan perempuan-perempuan yang bekerja tanpa selalu tercatat namanya dalam sejarah.

Pendidikan dan Generasi Baru

Pendidikan membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat.

Jika generasi tempo dulu banyak memperoleh pengetahuan melalui keluarga, alam, dan tokoh masyarakat, generasi selanjutnya mempunyai akses yang semakin luas terhadap pendidikan formal.

Anak-anak dapat belajar lebih lama.

Generasi muda dapat memperoleh pekerjaan yang lebih beragam.

Teknologi membuka akses informasi yang sebelumnya tidak pernah dibayangkan.

Namun pendidikan modern membawa tanggung jawab baru.

Generasi muda tidak boleh hanya mengetahui dunia luar tetapi melupakan kampung sendiri.

Mereka perlu mengetahui bahwa sebelum disebut Sumbermulyo, kampungnya pernah dikenal sebagai Segitik.

Mereka perlu mengetahui bagaimana leluhur bekerja membuka lahan.

Mereka perlu mengetahui cerita sungai, jalan lama, sumber air, makam, serta berbagai nama tempat yang mungkin hanya diketahui oleh generasi tua.

Dari Jalan Tanah ke Infrastruktur Modern

Salah satu tanda perubahan paling mudah dilihat adalah kondisi infrastruktur.

Jalan yang dahulu berupa tanah perlahan diperbaiki.

Akses kendaraan semakin baik.

Hubungan dengan wilayah lain menjadi lebih cepat.

Pembangunan jalan memberikan pengaruh besar terhadap kegiatan ekonomi dan sosial.

Hasil pertanian lebih mudah dibawa keluar.

Anak-anak lebih mudah menuju sekolah.

Masyarakat lebih cepat mendapatkan pelayanan kesehatan.

Kegiatan pemerintahan juga semakin mudah dijangkau.

Apa yang sekarang terasa biasa sebenarnya merupakan hasil perjalanan panjang pembangunan antargenerasi.

Perubahan Ekonomi Masyarakat

Pada masa lalu masyarakat lebih banyak bertumpu pada pertanian.

Kini pekerjaan masyarakat semakin beragam.

Selain petani, muncul pedagang, pelaku usaha, pekerja jasa, pekerja swasta, UMKM, serta berbagai mata pencaharian lainnya.

Perkembangan digital juga mulai masuk dalam kehidupan ekonomi Desa Pulosari.

Pada 2026, program pendampingan UMKM berbasis Google Maps dilakukan di ketiga dusun Desa Pulosari, termasuk Sumbermulyo, sebagai bagian dari upaya memperkuat profil usaha dan pemasaran digital.

Ini menunjukkan perubahan besar dalam kehidupan masyarakat.

Jika dahulu hasil usaha dikenal melalui cerita dari mulut ke mulut, sekarang produk masyarakat dapat diperkenalkan melalui internet.

Kepedulian terhadap Lingkungan

Sumbermulyo tumbuh dari lingkungan yang dahulu digambarkan sebagai kawasan alam dan hutan.

Hubungan tersebut memberikan tanggung jawab kepada masyarakat sekarang untuk menjaga lingkungan.

Persoalan sampah, air, tanah, dan ruang permukiman menjadi tantangan baru yang tidak dihadapi dalam bentuk yang sama oleh generasi terdahulu.

Pada 2026, program bank sampah berbasis pemilahan juga ditempatkan di tiga dusun Desa Pulosari, termasuk Sumbermulyo, untuk mendorong pengelolaan sampah yang lebih tertib dan bernilai ekonomi.

Dengan demikian, semangat menjaga kampung sekarang tidak hanya diwujudkan melalui kerja bakti, tetapi juga mulai berkembang menuju kesadaran lingkungan yang lebih modern.

Segitik dalam Ingatan, Sumbermulyo dalam Perjalanan

Nama Sumbermulyo tidak harus menghapus nama Segitik.

Justru keduanya dapat ditempatkan sebagai dua bab dalam satu perjalanan.

Segitik adalah ingatan mengenai masa awal.

Sumbermulyo adalah perjalanan masyarakat setelahnya.

Ketika nama Segitik masih disebut oleh para sesepuh, generasi sekarang mempunyai kesempatan untuk bertanya:

Di mana letak Kampung Segitik dahulu?

Di mana tempat yang disebut sebagai lokasi adu pukul?

Sungai mana yang menjadi batas lama?

Siapa keluarga pertama yang tinggal di kawasan tersebut?

Kapan nama Sumbermulyo mulai digunakan?

Siapa tokoh yang pertama mengusulkan perubahan nama?

Pertanyaan-pertanyaan seperti itulah yang suatu saat dapat menjadikan sejarah Sumbermulyo jauh lebih lengkap.

Sejarah Rakyat yang Harus Diselamatkan

Sejarah tidak selalu berada dalam buku.

Kadang sejarah berada dalam ingatan seorang kakek yang mengetahui nama jalan lama.

Sejarah dapat berada dalam foto hitam-putih yang tersimpan di lemari keluarga.

Sejarah dapat berada pada batu nisan tua.

Sejarah dapat tersimpan dalam letter C, peta tanah, nama sungai, pohon besar, sumber mata air, atau cerita mengenai rumah pertama di sebuah kampung.

Karena itu, masyarakat Sumbermulyo mempunyai pekerjaan penting: menyelamatkan ingatan sebelum hilang bersama generasi yang menyimpannya.

Cerita para sesepuh perlu direkam.

Foto lama perlu dipindai.

Nama tokoh perlu dicatat.

Lokasi lama perlu dipetakan.

Dengan cara tersebut, sejarah Segitik tidak hanya menjadi satu paragraf dalam cerita asal-usul Desa Pulosari.

Ia dapat menjadi sejarah rakyat yang lengkap.

Sumbermulyo Masa Kini

Sumbermulyo hari ini telah berubah jauh dari gambaran kawasan hutan yang terdapat dalam cerita asal-usul desa.

Permukiman berkembang.

Jalan semakin baik.

Kegiatan agama hidup.

Pendidikan semakin terbuka.

Teknologi telah masuk dalam kehidupan warga.

Kegiatan ekonomi menjadi lebih beragam.

Namun di balik seluruh kemajuan tersebut, karakter masyarakat masih dibangun dari nilai-nilai lama: kebersamaan, kerja keras, kehidupan religius, kepedulian terhadap tetangga, dan rasa memiliki terhadap kampung.

Itulah jembatan yang menghubungkan Segitik dengan Sumbermulyo.

Dari Segitik Menuju Masa Depan

Perjalanan Dusun Sumbermulyo dapat dibaca sebagai perjalanan sebuah kampung yang terus berubah.

Dari kawasan hutan tumbuh permukiman.

Dari cerita Segitik lahir identitas kampung.

Dari kehidupan sederhana tumbuh masyarakat pertanian.

Dari jalan kecil berkembang jaringan lingkungan.

Dari kegiatan agama sederhana tumbuh kehidupan masyarakat yang religius.

Dari ekonomi tradisional mulai berkembang usaha yang mengenal teknologi digital.

Namun kemajuan tidak seharusnya memutus hubungan dengan masa lalu.

Justru semakin maju sebuah masyarakat, semakin penting ia mengetahui dari mana berasal.

Segitik adalah akar. Sumbermulyo adalah pohon yang terus tumbuh.

Akarnya berada pada cerita leluhur, kerja keras masyarakat, alam, dan gotong royong.

Batangnya dibangun oleh generasi demi generasi.

Sedangkan cabang dan buahnya adalah kehidupan masyarakat Sumbermulyo hari ini serta harapan generasi yang akan datang.
Sumber informasi: Pemerintah Desa Pulosari.